Minggu, 26 April 2026

Aktifis 98 Sumut: Koalisi Islam-Prabowo Melawan Capres Boneka Asing

Kamis, 24 April 2014 16:08 WIB
Aktifis 98 Sumut: Koalisi Islam-Prabowo Melawan Capres Boneka Asing
Muhammad Ikhyar Velayati Harahap. (Ist)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Medan, (beritasumut.com) – Bila dilihat dari perolehan suara partai pada Pileg 2014, ada tiga poros politik yang akan bertarung pada pilpres mendatang. Tiga poros politik tersebut mencerminkan polarisasi ideologi dan kultur politik yang ada paska pileg yaitu poros politik  Islam, poros nasionalis progresif serta poros nasionalis pragmatis.

Hal itu disampaikan Kordinator Forum Aktifis 98 Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Ikhyar Velayati Harahap dalam acara diskusi terbatas bertajuk “Mencegah Intervensi Modal Asing & Konglomerat Hitam Dalam Suksesi Kekuasaan di Indonesia” di Hotel Arya Duta, Medan, Sumut, Kamis (24/4/2014).

Dijelaskan, poros politik yang mewakili ideologi Islam tercermin dari ideologi, program, simbol-simbol, konstituen serta tindakan politik yang menjadikan Islam sebagai tujuan politik akhir, terlepas dari perbedaan cara pandang partai partai tersebut dalam memahami bentuk dan prinsip Negara Islam (PKB, PAN, PKS, PPP, dan PBB).

Ijtihad koalisi Islam ini berpeluang untuk terulang kembali karena mempunyai modal presidential threshold (PT) sekitar 30 persen bila dilihat dari hasil Pileg 2014 serta modal sejarah yang gemilang ketika menaikkan Gus Dur menjadi Presiden sekaligus berhasil melengserkannya.

Kemudian poros politik yang kedua adalah koalisi PDIP dan Nasdem yang didukung oleh negara-negara barat dan para konglomerat besar Indonesia. Jika dilihat dari simbol serta kampanye politik PDIP yang menyuarakan Tri Sakti serta Marhaenisme sebagai cita-cita perjuangan, maka sangat bertolak belakang dengan tindakan politik PDIP yang mencari dukungan dari negara-negara asing.

Hal ini tercermin dari pertemuan Megawati sebagai simbol partai dan Jokowi sebagai simbol Presiden RI yang diusung PDIP dengan Dubes Amerika Serikat, Dubes Vatikan, Dubes Inggris, Dubes Turki, Dubes Peru, Dubes  Meksiko, Dubes Norwegia di rumah pengusaha Jacob Soetoyo, Senin (14/4/2014). Jacob Soetoyo juga pernah tercatat dalam barisan Dewan Pengawas Center of Strategic and International Studies (CSIS) pada Tahun 2005 yang merupakan dapur pemikiran kebijakan pada masa Orde Baru.

Selanjutnya, kata Ikhyar, koalisi nasionalis pragmatis (PDIP dan Nasdem) didukung oleh negara-negara yang menganut ekonomi neo liberal sangat berpeluang besar untuk memenangkan Pilpres 2014 karena mendapat dukungan dana dan media dari para konglomerat Indonesia serta konglomerat dunia.

Transaksi politik antara Mega+Jokowi dengan pihak asing dikhawatirkan membuat Indonesia ke depan kembali terjajah dalam bentuk yang lebih modern. Segala kebijakan dan regulasi yang di keluarkan presiden terpilih tidak akan bertentangan dengan kepentingan ekonomi dan politik neo liberalisme. Selain itu, sumber daya alam akan diabdikan untuk kepentingan pasar, bukan kepentingan rakyat.
 
Potensi ancaman menangnya calon presiden yang di dukung asing pada Pilpres 2014 terhadap kedaulatan ekonomi, politik dan budaya NKRI sebenarnya sudah mulai dirasakan oleh para ulama, tokoh masyarakat serta aktifis yang bergerak di bidang sosial.

Banyak hal yang aneh dan tidak normal, dalam waktu sekian bulan, semua orang menjadi kenal dengan sosok Jokowi, semua media dan alat politik yang ada tiba-tiba menjadi solid dan memberitakan tentang Jokowi. Jika tidak ada kekuatan besar, jaringan besar yang didukung oleh dana dan koalisi negara-negara besar, maka tidak akan mungkin persepsi masyarakat tentang Jokowi yang seakan akan populis dan sederhana menjadi maenstrem, serta tingkat popularitasnya melebihi selebriti yang paling terkenal sekalipun di Indonesia, tegas Ikhyar yang juga Ketua PKNU Sumut.
 
Ditambahkannya, Forum Aktifis 98 Sumut bersama dengan para ulama akan berdiri menjadi garda terdepan untuk menentang dan menolak segala intervensi asing dalam proses suksesi politik 2014 di Indonesia. Aktifis 98 Sumut akan melakukan safari Tri Sakti untuk melakukan konsolidasi dan penyamaan persepsi diantara elemen bangsa ini agar pemimpin Indonesia ke depan haruslah seorang yang mempunyai ideologi nasionalis yang progresif. Seseorang yang cinta tanah air, sekaligus juga adil dan jujur dalam mengelola sumber daya alam untuk kesejahteraan rakyat.

Dari hasil analisis terhadap calon presiden yang berpotensi bertarung dalam Pilpres 2014, menurut Aktifis 98 Sumut bahwa Prabowo termasuk dalam poros yang mencerminkan ideologi  nasionalis progresif.
 
Aktifis 98 Sumut berharap koalisi Islam dapat menyatukan kekuatan bersama Prabowo untuk menghempang kekuatan capres boneka asing yang didukung kekuatan neo liberalisme dalam merebut kepemimpinan nasional Indonesia periode 2014-2019. Karena sesungguhnya, secara ideologi dan historis poros Islam dan nasionalis progresif mempunyai kesamaan cara pandang dalam membangun Indonesia ke depan, tandas Ikhyar. (BS-001)

Tags
beritaTerkait
komentar
beritaTerbaru
hit tracker