Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Beritasumut.com - Pegulat Sumatera Utara (Sumut) sejak lama sudah punya deretan prestasi cukup bagus di level nasional. Namun prestasi itu tidaklah cukup. Pegulat Sumut diminta tidak cepat puas dengan prestasi nasional saja, namun harus memiliki target besar hingga SEA Games, Asian Games bahkan Olimpiade.
"Hanya atlet yang juara di luar negeri saja yang bisa membuat lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang. Jadi kalian janga merasa puas dengan juara nasional saja tetapi target SEA Games, Asian Games hingga Olimpiade. Supaya kalian jadi atlet gulat yang bisa membuat bendera Indonesia berkibar dan lagu kebangsaan kita dikumandangkan di luar negeri," tegas salah seorang tokoh pembina olahraga, Rajamin Sirait SE dalam jamuan makan siang bersama para pegulat Sumut yang lolos ke PON, di Istana Koki, Medan, Rabu (16/12/2015) siang.
Mantan Ketua Harian Forki Sumut selama dua periode itu cukup berpengalaman memimpin organisasi olahraga. Gulat juga sudah lama dikenalnya lewat seorang teman, almarhum Agus Gultom.
"Dia itu orangnya baik, berani dan tidak segan-segan mengeluarkan biaya untuk gulat," ujarnya.
Tapi setelah sekian lama tidak banyak berkecimpung di dunia olahraga, Rajamin mendengar bahwa gulat tidak mempunyai pemimpin (ketua umum). Padahal, pemimpin di organisasi olahraga itu sangat penting.
"Tapi pemimpin yang baik bukan yang minta dilayani tapi melayani," tegasnya.
Pengalamannya bersama Forki Sumut memberinya beberapa pemahaman bahwa menjalankan organisasi olahraga bukanlah karena uang semata, tapi yang terpenting adalah rasa cinta. Seorang atlet, butuh pendamping yang mengarahkannya. Sederhana pun kita kalau bersama-sama, akan membuat atlet senang.
Atlet juga harus memahami posisinya sebagai seorang olahragawan amatir. Mereka harus berjuang dulu meraih prestasi terbaik, baru diberi penghargaan yang nilainya terkadang sangat banyak.
Sementara pengurus, jelas Rajamin, yang terpenting bukan nama besar. Bukan minta dihargai, tapi yang penting ada hasil yang kelak tercatat sebagai sejarah.
"Bagi saya, bukan cari popularitas. Kalau mau cari popularitas, urus bulutangkis sebagai olahraga yang populer, parpol atau Ketua OKP," ujarnya.
Ia juga menyoroti situasi pembinaan dan dana olahraga Sumut yang sangat jeblok. Padahal, Sumut sejak lama merupakan provinsi pendulang medali terbesar di luar Jawa. Sekarang, sudah tertinggal dari daerah lain dan banyak atlet Sumut yang memperkuat daerah lain karena provinsi kurang mendukung pembinaan.
Hingga saat ini, Rajamin menjadi kandidat kuat dalam Musyawarah Provinsi (Musprov) PGSI Sumut yang akan digelar di Gedung KONI, Kamis (17/12/2015) pagi. Namun ia tak ingin musprov jadi seperti ajang pemilihan organisasi politik atau lainnya.
"Jangan bicara uang. Kalau bicara uang maka organisasi ini tidak akan jadi apa-apa. Jangan sampai olahraga ini juga jadi sarang korupsi," tuturnya
"Kalau percaya untuk memilih saya, saya akan berupaya untuk melakukan apa yang bisa saya dedikasikan untuk gulat. Mudah-mudahan di saat situasi terendah ini kita bisa terbang ke tempat tertinggi. Seperti landasan pesawat, dari titik terandah inilah kita melesat," ucapnya.
Hadir pada kesempatan itu, pelatih sekaligus Ketua Pengcap PGSI Medan Mangasi Simangunsong dan pelatih Daslan Gultom.
Pada Kejurnas Pra PON lalu, 28 November hingga 4 Desember lalu, Sumut yang menurunkan 22 atlet meraih 1 emas dan 7 perunggu. Para peraih medali tersebut adalah Sumurung Siregar (emas), Febrianto Sembiring, Efraim Ginting, Husaini Barus, Elfita br Ginting, Sekda Barus, Faisal Lase dan Muqsit Redha (perunggu). Pada even tersebut, Sumut hadir di Malang dengan keterbatasan, tanpa seragam dan uang saku yang minim.
(BS-030)
Tags
beritaTerkait
komentar