Kamis, 30 April 2026

Pengembangan Kopi Mandailing Butuh Keseriusan Pemerintah

Kamis, 12 Maret 2015 18:29 WIB
Pengembangan Kopi Mandailing Butuh Keseriusan Pemerintah
Kopi. (Google)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Beritasumut.com – Permintaan pasar terhadap Kopi Mandailing tiap tahun terus mengalami peningkatan. Potensi ini tentunya cukup menjanjikan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat Mandailing Natal (Madina). Namun hingga sejauh ini, produksi kopi di Kabupaten Madina masih jalan di tempat. Untuk itu dibutuhkan keseriusan berbagai pihak, khususnya Pemerintah  Kabupaten (Pemkab) Madina.

"Pengembangan Kopi Mandailing butuh keseriusan semua pihak. Namun yang paling vital peranannya adalah pemerintah. Sejauh ini memang sudah ada langkah-langkah dari pemerintah dan kita mengapresiasi itu. Namun dari segi pendanaan dan pengelolaan masih sering terbengkalai," ungkap Sekretaris Batang Pungkut Green Conservation (BPGC) Pendi Lubis di Panyabungan, Kamis (12/3/2015).

Menurut Pendy, dari data yang dirilis oleh Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Kopi Mandaling/Mandheling terjual ke luar negeri 120.000 ton per tahun. Jika dirupiahkan dengan harga minimal Rp10.000/kg, tentunya masyarakat Madina khususnya petani kopi sudah mengantongi uang hingga Rp1,2 triliun.

"Kopi Mandailing mempunyai pasar yang cukup menjanjikan di berbagai belahan dunia. Sebut saja di Eropa, Amerika dan beberapa negara Asia seperti Cina, Jepang dan Hongkong," beber Pendy.

Namun, lanjut Pendy dari hitung-hitungan yang dilakukan oleh BPGC dan Sumatera Rainforest Institute (SRI), jumlah Kopi Mandailing yang dihasilkan petani masih berkisar 300 ton per tahun. Tentunya produksi ini masih sangat jauh dari potensi pasar yang ada.

"Peluang ini harus bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Pemerintah perlu menyusun formula yang lebih jitu. Sejauh ini, BPGC dan SRI sudah membentuk tim pengembangan Kopi Mandailing, dan siap bekerja sama dengan pemerintah daerah," ujar Pendy.

Sementara itu, Direktur SRI Rasyid Assaf Dongoran mengatakan rendahnya produktifitas kopi di daerah ini disebabkan oleh beberapa faktor, yakni: (1) Lahan-lahan kopi tidak dirawat dengan baik sesuai dengan standard perawatan yang baik, (2) Sumber benih kopi tidak terseleksi dengan baik--cenderung menanam dari sumber benih cabutan, (3) Belum terorganisirnya anggota petani dengan baik, (4) rendahnya komitmen petani untuk berkontribusi dan partisipasi dalam program pemerintah dan non pemerintah, (5) Harga jual yang sangat fluktiatif akibat spekulasi pasar lokal, (6) Minimnya penyuluhan yang intensif dan terus menerus dilapangan oleh pemerintah dan non pemerintah

"Selain faktor-faktor di atas. Pemikiran yang sempit dan upaya saling menyalahkan sesama stakeholders yang bersangkutan. Masyarakat sering menyalahkan pemerintah yang dianggap kurang berbuat. Sementara pemerintah menyatakan sudah banyak program-program yang dijalankan, namun masyarakat tidak mampu memanfaatkannya dengan baik," ujar Rasyid.

Ke depan, Rasyid berharap, ada kerja sama yang baik antara pemerintah, masyarakat dan organisasi penggiat kopi dalam pengelolaan pengembangan kopi Mandailing.

"Tentunya kerja sama yang baik akan menciptakan program yang terarah, terkendali dan terukur tingkat keberhasilannya," harap Rasyid. (BS-026)

Tags
beritaTerkait
komentar
beritaTerbaru
hit tracker