Peristiwa

Hari Aksi Pengendalian Perubahan Iklim, Diharapkan Kontribusi Semua Pihak



Hari Aksi Pengendalian Perubahan Iklim, Diharapkan Kontribusi Semua Pihak
beritasumut.com/ist
Beritasumut.com-Komitmen untuk menahan laju pemanasan global tidak melebihi 2 derajat celcius dan sedapat mungkin mengupayakan di bawah 1,5 derajat Celcius setelah masa pra-industri, telah diatur di dalam Kesepakatan Paris (Paris Ageement). 

 

Untuk mencapai target tersebut perlu dukungan kebijakan, progam dan kegiatan yang mendorong berbagai pihak untuk berkontribusi dalam upaya pengurangan emisi GRK serta meningkatan kapasitas adaptasi dalam menghadapi bencana terkait iklim yang semakin sering terjadi di wilayah Indonesia. 

 

Dr Ruandha Agung Sugardiman selaku Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim KLHK menekankan pentingnya kita semua bekerjasama untuk menghadapi dampak dari terjadinya cuaca ekstrim sebagai akibat perubahan iklim di Indonesia. 

 

Hal ini disampaikan dalam acara Hari Aksi Pengendalian Perubahan Iklim (HAPPI). Saat ini Indonesia terus berupaya untuk merealisasikan komitmen pengurangan emisi GRK sebagaimana tercantum dalam dokumen the First National Determined Contribution (NDC), yaitu pengurangan emisi GRK 29% dengan usaha sendiri, atau 41% jika ada dukungan internasional.

 

Kegiatan Hari Aksi Pengendalian Perubahan Iklim (HAPPI) yang diselenggarakan pada tanggal 24-25 Oktober 2018 oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan merupakan forum multi pihak dan multi sektor untuk mendiskusikan perkembangan terakhir dari dukungan sistem dan program-program lain, termasuk pendanaan, teknologi dan peningkatan kapasitas terkait dengan perubahan iklim. 

 

Dalam kegiatan tersebut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyerahkan penghargaan ProKlim kepada 33 lokasi yang memenuhi kriteria sebagai ProKlim Utama dan 1 lokasi ProKlim Lestari yang telah melaksanakan good practises sehingga dapat meningkatkan kapasitas adaptasi masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim serta berkontribusi terhadap pengurangan emisi GRK di tingkat tapak.

 

Selain itu penghargaan diberikan juga kepada 10 Pemerintah Daerah Provinsi dan 41 Kabupaten/Kota yang telah mengeluarkan kebijakan dan peraturan di Tahun 2018 untuk mendukung pelaksanaan ProKlim di wilayahnya.

 

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dr Siti Nurbaya memberikan apresiasi kepada semangat kolektif seluruh pihak dalam melaksanakan aksi nyata adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Penerima penghargaan diharapkan dapat menjadi agen pembawa perubahan sehingga kemudian semakin banyak terbangun kampung iklim di seluruh wilayah Indonesia.

 

Di tingkat implementasi dan aksi nyata satu capaian terbesar Indonesia dalam mewujudkan komitmen pengurangan emisi GRK adalah keberhasilan menekan kejadian kebakaran hutan dan lahan.

 

Selama kurun waktu 2016, 2017, dan 2018 dimana pantauan hotspot dan kejadian karhutla menurun signifikan dibandingkan tahun 2015. Hasil nyata Indonesia ini telah mendapat apresiasi dari negara-negara di tingkat regional maupun internasional. Indonesia dan negara-negara anggota ASEAN lainnya juga menegaskan kembali komitmen untuk sepenuhnya dan efektif melaksanakan ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution (AATHP) dan meningkatkan kerjasama untuk mencapai Haze-Free ASEAN

pada tahun 2020. 

 

Negara-negara anggota ASEAN akan terus melakukan upaya berkelanjutan dalam memperkuat kemampuan nasional dan kerjasama regional dalam assessment, pencegahan, mitigasi dan penanganan kebakaran lahan dan atau hutan.

 

Penghargaan yang diberikan tahun ini menambah daftar aksi lokal adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di tingkat tapak dan pembina ProKlim di daerah yang telah direkognisi oleh pemerintah pada tahun-tahun sebelumnya. 

 

Pada periode tahun 2015-2018 KLHK telah menerima 1566 pendaftaran ProKlim, dimana 137 diantaranya telah mendapat penghargaan trophy ProKlim. Hal ini menggambarkan bahwa aksi nyata pengendalian perubahan iklim terus menguat di Indonesia sampai ke tingkat tapak, sebagai terjemahan kesepakatan yang telah ditetapkan melalui proses panjang negosiasi di tingkat internasional. 

 

Perubahan Iklim adalah nyata, jadi penangannya pun harus nyata di berbagai tingkat baik dari aspek kebijakan maupun program dan aksi nyata.

 

Rangkaian HAPPI juga menampilkan informasi mengenai kebijakan dan program sektor untuk menurunkan emisi GRK serta kreatifitas dan inisiatif kegiatan mitigasi dan adaptasi di tingkat tapak yang dapat disaksikan melalui kegiatan pameran. 

 

Dalam kesempatan ini dilaksanakan juga penandatangan kesepakatan kerjasama KLHK dengan IWAPI dan BMKG, sebagai salah satu landasan kolabarasi multi pihak dan multi sektor dalam pengendalian perubahan iklim di Indonesia. Selain itu diluncurkan juga Peraturan Dirjen tentang “Panduan Penyusunan Metodologi Penghitungan Penurunan Emisi dan atau Serapan GRK” dan “Pedoman Penjaminan dan Pengendalian Mutu (QA/QC) IGRK” sebagai upaya untuk memenuhi ketentuan global terkait penurunan emisi GRK. 

 

Kegiatan HAPPI menghadirkan narasumber yang mewakili K/L, pemerintah daerah, lembaga mitra pembangunan, dan organisasi non-pemerintah, serta dihadiri oleh para pemangku kepentingan di tingkat nasioal maupuan daerah.

 

Penyelenggaraan HAPPI diharapkan dapat memberikan informasi mengenai perkembangan kebijakan dan program pemerintah, menjadi sarana pertukaran informasi dan pengalaman dalam melaksanakan upaya pengendalian perubahan iklim sampai ke tingkat tapak serta memperkuat komitmen seluruh pihak untuk melanjutkan upaya pencapaian target pengendalian perubahan iklim sehingga kehidupan di bumi dapat terjaga keberlanjutannya.(rel)


Tag: