Ekonomi

Gubernur Sumut Dukung Penuh Pencanangan Kawasan Pertanian Terpadu di Dairi

Dimulai dari Tanam Cabai Merah 100 Ha di Parbuluan


Gubernur Sumut Dukung Penuh Pencanangan Kawasan Pertanian Terpadu di Dairi
beritasumut.com/BS03

beritasumut.com - Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Edy Rahmayadi menanam bibit tanaman cabai merah di Desa Parbuluan V, Kecamatan Parbuluan, Kabupaten Dairi, pada Pencanangan Kawasan Pertanian Terpadu Hortikultura, Senin (21/11/2022).

Hadir di antaranya Kapolda Sumut Irjen Pol Panca Putra Simanjuntak, Bupati Dairi Eddy Keleng Berutu, Danrem 023/KS Kol Inf Dody Triwinarto, kelompok tani serta perwakilan PT Bank Sumut. Turut mendampingi, Plt Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Lusyantini, Kabiro Perekonomian Naslindo Sirait, Kepala Dinas Kehutanan Herianto dan Kepala Dinas Sosial Basarin Tanjung, serta para pejabat setempat.

Dalam pidatonya, Gubernur Edy Rahmayadi membandingkan kondisi tanah di sebuah provinsi kawasan Indonesia Timur, yang banyak bebatuan, dengan Sumut, khususnya Kabupaten Dairi yang begitu subur. Sehingga idealnya, masyarakat yang tinggal di daerah ini hidup sehat dan berkecukupan.

"Di sini, begitu subur tanahnya. Jadi saya tidak usah banyak omong, tetapi yang penting, apa yang mau kita kerjakan. Karena Bupatinya menargetkan luas lahan 400 ha hingga 2024 nanti," ujar Gubernur.

Pencanangan kawasan pertanian terpadu ini, dalam rangka peningkatan ketahanan pangan dan pengendalian inflasi di Kabupaten Dairi, dan Sumut. Namun, menurutnya, perlu ada pendukung agar upaya pembangunan sektor pertanian ini bisa berbuah kesejahteraan.

"Inilah kekayaan kita, makanya saya mau ini jadi. Termasuk nanti infrastruktur, juga sangat penting. Ya harus serius," kata Gubernur, yang mengaku meninggalkan Kota Medan untuk melihat dan menggelar kegiatan penanaman bibit pohon cabai merah di lahan tersebut.

Dalam komitmen dirinya mendukung pengembangan sektor pertanian pangan tersebut, Gubernur pun menyebutkan perlunya langkah antisipasi, mengingat timbulnya kekhawatiran atas kondisi geopolitik dunia, dimana konflik antarnegara, mempengaruhi pasokan pupuk ke Indonesia.

"Tahun depan pupuk ini (mungkin) jadi persoalan, karena kita masih impor. Sementara di luar negeri juga terganggu (produksi) akibat perang. Jadi kita harus pikiran bagaimana membuat pupuk sendiri," jelas Edy Rahmayadi.

Untuk itu, Edy Rahmayadi pun meminta pihak terkait untuk menyiapkan langkah mengembangkan ternak kerbau atau lembu. Tujuannya selain meningkatkan pasokan daging dan susu, juga bisa memanfaatkan kotorannya sebagai pupuk organik.

"Saya berharap kalau targetnya 400 hektare sampai 2024, di tahun 2026 nanti bagaimana bisa tambah sampai 1.000 hektare," sebutnya.


Tag: