Pasca KPK Tangkap Bupati Madina

Masih Ada Kasus Lebih Besar



Masih Ada Kasus Lebih Besar
Google
Hidayat Batubara

Medan, (beritasumut.com) Pengacara terkemuka di Medan Hamdani Harahap SH, secara terang-terangan mengakui, Bupati Mandailing Natal (Madina) Hidayat Batubara dijemput petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat sedang berada di kediamannya di Jalan Juang 45, Desa Medan Estate, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.

"Memang saat itu dia datang ke rumah saya, katanya mau konsultasi hukum karena Hidayat tau akan ditangkap KPK," kata Hamdani kepada wartawan, Kamis (16/5/2013).

Menurut Hamdani, sebagai pengacara dia memang biasa didatangi pihak-pihak yang tersangkut dalam proses hukum hanya untuk melakukan konsultasi. "Biasanya itu adinda, saya ini kan pengacara. Baik itu perampok ataupun koruptor dan pihak-pihak lainnya yang terkena persoalan hukum banyak yang datang ke saya," ujarnya.

Menurut Hamdani, dalam pertemuan singkat sebelum KPK datang menjemput, Hidayat mengatakan ingin menggunakan jasa pengacara Yusril Ihza Mahendra. "Dia minta tolong agar difasilitasi ke Yusril," kata Hamdani.

Hamdani mengatakan akan memberikan keterangan resmi kepada media massa mengenai pertemuannya itu, karena diyakini masih ada kasus yang lebih besar di balik penangkapan Hidayat. "Saya yakin target KPK bukan hanya Hidayat," ujarnya.

Pengacara yang tergabung dalam kelompok advokat Citra Keadilan ini, juga menjelaskan dia bersama tiga rekannya sedang mempersiapkan laporan resmi ke KPK, terkait bukti baru indikasi korupsi dana Bantuan Sosial (Bansos) 2011 di Sumut. Namun, kata Hamdani, persoalan hukum yang diduga menjerat Hidayat hingga sampai ditangkap KPK juga akan dipelajarinya.

Sebelumnya, Bupati Madina ini ditangkap dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh penyidik KPK terkait kasus suap Bantuan Daerah Bawahan (BDB) Tahun Anggaran 2013 dari Pemerintah Provinsi Sumut ke Pemkab Madina.

Penyidik KPK juga turut membawa Surung Panjaitan (kontraktor) dan Plt Kadis PU Madina Khairil Anwar. Keduanya juga diduga ikut terjerat kasus tersebut. Tim dari KPK menangkap Khairil Anwar dan Surung di depan rumah Bupati Madina, di Jalan Sei Asahan No 76, Medan. Keduanya ditangkap petugas KPK setelah memberikan suap sebesar Rp1 milliar ke Hidayat.

Setelah menangkap keduanya, penyidik KPK kemudian melakukan penggeledahan di dalam rumah Hidayat, dan menemukan uang suap sejumlah Rp1 miliar dari brankas. (BS-022)


Tag: